MEMBERI DENGAN SUKACITA

Ada begitu banyak umat Tuhan saat ini sepertinya peduli terhadap penginjilan untuk menjangkau orang-orang yang terhilang. Ketika seorang pendeta meminta sumbangan untuk pembangunan sebuah gereja, dengan berat hati dan mengeluh berkata dalam hati atau bahkan kepada sesama temannya,”kasihan pendeta, kerjanya cuma minta sumbangan untuk pembangunan gereja. Ngapain sih bangun gereja yang besar, kan uangnya bisa dipakai untuk penginjilan, masih banyak orang yang membutuhkan di luar sana.” Demikian salah satu pernyataan dari salah seorang umat Tuhan.

Markus 14:3-8 menceritakan kisah tentang murid Yesus yang seakan-akan peduli dengan orang miskin. Ketika seorang perempuan mengurapi Yesus dengan minyak narwastu yang mahal harganya, murid Yesus yang bernama Yudas Iskariot berkata,“Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” (ayat 4-5). Alkitab mencatat bahwa ini adalah pernyataan pura-pura dari Yudas Iskariot untuk menutupi kekurangannya.

Saudara, kita sangat sedih melihat fenomena yang terjadi terhadap umat-umat TUhan yang tanpa sadar berusaha untuk menutupi kekurangannya dengan pura-pura melakukan apa yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan dan berpura-pura peduli terhadap orang lain, peduli terhadap orang miskin, peduli terhadap penginjilan dan lain sebagainya. Seseorang mengomentari permohonan sumbangan pembangunan gereja dengan berkata bahwa uang tersebut dapat dipakai untuk penginjilan, tetapi dia sendiri tidak pernah melakukan penginjilan, apalagi membiayai penginjilan. Ketika seorang penginjil akan melakukan perjalanan misi dan meminta dukungan dana, seseorang berkata,”Ngapain sih jauh-jauh melakukan penginjilan, masih banyak domba-domba yang perlu dikasih makan di dalam jemaat.” Serba salah memang seorang hamba Tuhan, seorang pendeta, seorang penginjil, seorang yang melayani Tuhan. Firman Tuhan ini berusaha untuk mengubah pola pikir kita agar dapat memberi sesuatu dengan sukacita, dengan rela hati, tidak dengan paksaan, tidak dengan sedih hati dan tidak mengeluh (2 Korintus 9:7). Kalau umat Tuhan tidak mau memberi seorang pendeta sumbangan untuk pembangunan gereja, jangan pura-pura peduli dengan yang lain. Jangan mengata-ngatai pekerjaan Tuhan seakan-akan itu tidak perlu. Saudara tidak mau memberi sumbangan pembangunan gereja, Tuhan sanggup mendatangkan berjuta-juta orang yang mau memberi, bahkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan, Dia sanggup menggerakkan hatinya untuk menyumbang pembangunan gereja seperti layaknya Tuhan menggerakkan Koresh, raja Persia untuk maksud penyelamatan umat Tuhan (Yesaya 45:13). Oleh karena itu, mari kita dapat memberi dengan suka cita agar pemberian kita berkenaan kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Amin

2 people like this post.

November 4, 2009   Posted in: Renungan